Kapitalisme & Kampus & Kebijakan-kebijakan, Sudah Resah Belum?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

“Kapitalisme & Kampus & Kebijakan-kebijakan, Sudah Resah Belum?”

Oleh: Mannawa Faraby (KEMA Departemen Akuntansi 2014)

Dalam beberapa periode ini kapitalisme menjadi ideologi besar. Membangun kapitalisme dibutuhkan penghisapan sehingga melahirkan ketimpangan, dimana ada satu kelompok yang mendominasi kelompok lain. Kelompok itu ialah mereka yang menguasai faktor-faktor produksi. Mereka melakukan kontrol sosial untuk menjaga eksistensinya. Caranya dilakukan oleh bagian-bagian yang mempresentasikan kapitalisme: pemerintah, media, dan pendidikan. Bagian-bagian itulah yang memproduksi ide dan keyakinan yang melegitimasi dan mendukung kapitalisme.

Dan juga, watak kapitalisme untuk senantiasa melakukan akumulasi modal melalui berbagai bentuk penghisapan membawanya melakukan ekspansi ke dalam berbagai ranah. Salah satunya pendidikan. Pada kondisi ini pendidikan bagi kapitalisme menempati dua posisi sekaligus. Sebagai instrumen yang mampu memproduksi ide untuk melanggengkan dan melegitimasi kapitalisme, sekaligus menjadi lahan ekspansi pengerukan modal bagi kapitalisme.

Kapitalisme akan terus-menerus memproduksi dan mendistribusikan hegemoninya melalui pengetahuan dan Perguruan Tinggi sebagai distributor utama kapitalisme yang akan menjaga dominasinya. Hal ini membentuk suatu konsep kebenaran baru di masyarakat.Misalnya saja, anggapan bahwa Perguruan tinggi yang mampu memberikan kita peluang untuk bekerja di tempat yang strategis pastilah mahal. Hal ini pada akhirnya akan menghasilkan logika permisif, bukan mempertanyakan kenapa biaya menjadi mahal, kenapa akses menuju pendidikan semakin runcing, tapi lebih mengarah kepada tindakan menyelamatkan diri dalam mekanisme kapitalisme.

Jika sudah seperti itu, maka serupa dengan gagasan Roem Topatimasang, dkk, “hakikat pendidikan tidak kurang dan tidak lebih sebagai sarana untuk mereproduksi sistem dan struktur sosial yang tidak adil seperti sistem relasi kelas, relasi gender, rasisme, atau pun sistem relasi (pen. yang timpang) lainnya.”

Keresahan terkait kondisi pendidikan kita hari ini ditanggapi oleh dua orang mahasiswa jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik untuk dijadikan keresahan bersama dalam bentuk poster. Penyebaran poster dan tagline menurutnya menjadi motede yang paling efektif. Peran poster atau propaganda bisa kita lihat dalam ilmu bisnis, yaitu pemasaran atau advertising. Advertising berfungsi sebagai alat untuk memperkenalkan produk kepada konsumen yang dikemas dengan semenarik mungkin agar konsumen tertarik membelinya. Konsep ini juga berlaku dalam advokasi agar para pembaca terpantik dan mampu berjalan bersama untuk melakukan perubahan sosial.

Sayangnya langkah propaganda ini dianggap sebuah pelanggaran oleh pihak birokrasi kampus Universitas Hasanuddin. Diskorsingnya dua orang mahasiswa jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik merupakan bukti nyata. Penempelan Poster bertajuk “Kampus Rasa Pabrik” dan “Rajin Membaca Jadi Pandai, Malas Membaca jadi Polisi” menjadi alasan diterbitkannya surat skorsing oleh pihak birokrasi kepada dua orang tersebut. Penjatuhan skorsing dua semseter ini juga dilandaskan pada tuduhan pencoretan dinding kampus oleh pihak satuan keamanan kampus yang terbilang semana-mena dan tanpa bukti yang kuat.

Ketiadaan ruang pembelaan dalam proses komdis semakin memberi tanda bahwa kampus kehilangan esensinya. Poster sebagai alat menyampaikan gagasan, ide, dan keresahan secara simbolik ini semestinya membuka ruang dialektika yang lebih luas, apalagi poster yang disebarkan mengkritik sistem pendidikan kita hari ini.  Ketiadaan ruang dialektis, kritis, serta langkah progresif oleh “masyarakat akademik” yang dilakukan secara kolektif semakin mempertegas bahwa kampus memang rasa pabrik. Akibatnya kampus hanya mampu mencetak sarjanawan yang konserfatif dan anti-pati terhadap realitas mayarakat kita hari ini.

Realitas pendidikan dengan sistem pendidikan yang kapitalisik ini bisa saja kita ubah. Dengan bergerak bersama dan terwujudnya iklim dan kondisi demokrasi di kampus, bukan hal yang mustahil, kita mampu mengubah sistem pendidikan yang kapitalistik. Bahkan boleh jadi kita dapat menumbangkan dominasi kapitalisme itu sendiri!.

Share.

About Author

Leave A Reply