Sehat Bermedia Sosial

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Sehat Bermedia Sosial

Tulisan Oleh: Nurul Jihan (KEMA Departemen Akuntansi 2017)

Perkembangan media sosial di jaman millenial ini sudah tak terelakkan lagi. Penggunaanya yang sangat mudah menjadikan media sosial menjadi suatu kebutuhan yang sudah tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Media sosial saat ini menjelma menjadi candu tersendiri di tiap kalangan masyarakat. Akibat kecanduan tersebut, esensi dari media sosial seakan bergeser dari yang semula menjadi wadah untuk menghubungkan individu secara pribadi dengan komunitasnya yang terpisah secara fisik berubah menjadi ajang pertunjukkan eksistensi dari para penggunanya. Kebanyakan pengguna terlena dengan kehidupan komunal yang ditawarkan oleh kecanggihan media sosial yang pada hakikatnya bersifat sementara atau bahkan hanya khayalan semata. Tentunya hal ini akan membawa dampak terhadap gaya hidup para penggunanya yang mayoritas merupakan kalangan masyarakat dengan usia produktif.

Tak sampai disitu, efek samping dari kecanduan media sosial yang cukup mendapat perhatian dari penulis ialah istilah yang dikenal dengan FOMO atau “Fear of Missing Out”. Mungkin istilah ini sedikit terdengar asing namun secara tidak sadar keadaan ini sudah sering dirasakan oleh kebanyakan orang. Fenomena yang satu ini merujuk pada kekhawatiran orang-orang jika melihat orang lain terlihat lebih bahagia dan merasakan kepuasan yang lebih besar daripada mereka. Keadaan ini ditandai dengan keinginan untuk tetap terhubung dengan media sosial secara terus menerus dengan motif untuk mengetahui apa yang orang lain lakukan.

Di tatanan FOMO akut, para pengidapnya sampai meninggalkan kebutuhan fundamental miliknya hanya untuk memuaskan hasrat keingintahuannya yang besar atau bahasa kekiniannya ialah KEPO (Knowing Every Particularly Object). Salah satu cara memuaskan hasratnya ialah dengan terus menerus mengecek kondisi terkini dari media sosial miliknya. Jika dibiarkan begitu saja tentunya hal ini akan berdampak langsung bagi psikologis pengidapnya. Seseorang dengan perasaan FOMO yang kuat cenderung terlalu terlibat dengan gambaran kehidupan orang lain, sehingga mereka akan merasa ‘tertinggal’ dan tidak bisa menikmati kehidupan mereka sendiri. Dari ketakutan akan ketinggalan mereka tersebut akan berimbas pada perilaku yang menuntut mereka untuk mengunggah kehidupan pribadi miliknya di media sosial. Tidak ada yang salah sebenarnya dengan mengunggah kehidupan pribadi seseorang di media sosial hanya saja kebanyakan orang seolah terjebak dengan citra yang ditampilkan di media sosial itu sendiri. Banyak orang yang hanya menampilkan sisi ‘ideal’ dari kehidupan mereka yang biasanya akan berujung dengan pertunjukkan sandiwara sang pengguna. Berdasarkan pengalaman penulis, pernah suatu kali penulis bertemu dengan seseorang yang terlihat sangat aktif di media sosial namun saat bertemu di dunia nyata kepribadiannya sangat bertolak belakang dari apa yang ia tampilkan di media sosial miliknya. Jati dirinya seakan sudah dikuasai dan dibentuk oleh media sosial. Tak ayal kejadian itu menimbulkan tanda tanya besar. Sebenarnya kita hidup di dunia bagian mana?Di dunia yang sifatnya maya atau nyata?

Melihat fenomena tersebut diperlukan kesadaran diri dari masing-masing pribadi dalam penggunaan media sosial itu sendiri. Tak bisa dipungkiri perkembangan media sosial sudah sangat banyak membawa kemudahan bagi kehidupan kita. Peran media sosial yang seyogyanya membawa manfaat bagi kita jangan sampai berubah bentuk menjadi pisau bermata dua dalam kehidupan kita. Fenomena ini harus kita jadikan bahan introspeksi diri. Kita harus mulai sadar bahwa bersosialisasi tidak melulu harus dilakukan di dunia maya. Hubungan intrapersonal yang kita bangun di dunia maya nyatanya tidak lebih penting dari hubungan kita di dunia nyata.

Selain itu, penulis mengira bahwa ada pentingnya  kita dalam melakukan puasa dalam bermedia sosial. Puasa yang pada hakikatnya selalu membawa manfaat tentunya bisa kita implementasikan dalam kehidupan bermedia sosial. Dengan rehat sejenak, kita bisa memiliki momen ideal bersama diri kita sendiri tanpa takut akan intervensi orang lain. Momen itu tentunya bisa menjadi ajang evaluasi yang akan membawa dampak yang besar bagi kehidupan pribadi kita kedepannya. Selain itu dengan menarik diri sejenak dari media sosial bisa membuat kita lebih menghargai kehadiran orang-orang di sekeliling kita. Mari berbenah agar tidak punah!

Share.

About Author

Leave A Reply