Bangkitlah Gerakan Mahasiswa

Identitas Buku :
Judul : Bangkitlah Gerakan Mahasiswa
Penulis : Eko Prasety
Penerbit : Intrans Publishing
Tahun : 2015
Tebal Halaman : 220 halaman

Ringkasan Isi Buku :

”Buku ini didedikasikan untuk seluruh aktivitis mahasiswa yang memilih menjadi martir dan memutuskan untuk tetap melawan” begitulah kutipan penulis di halaman awal penulisan buku ini. Diawal babnya buku ini menceritakan fakta-fakta di masyarakat luas yang harus dihadapi oleh mahasiswa saat ini, ekonomi yang yang merosot tajam serta politik yang makin suram, penulis juga membawa kita melihat negara-negara lain yang berguncang karena suara massa kaum mudanya seperti Mesir, Portugal, dan Brazil.

Buku ini berisi tentang suatu gerakan mahasiswa yang menentang keras para pemimpin yang tidak adil kepada kaum bawah. Dicontohkan dalam buku ini bahwa sekarang hukum tidak lagi berlaku dengan semestinya di Indonesia. Masyarakat yang kaya menganggap hukum hanya sebagai sesuatu yang sepele. Penjara bagi mereka adalah suatu paket liburan. Dalam buku ini juga menceritakan beberapa mahasiswa yang bergabung dalam organisasi-organisasi yang mana mereka semua sepakat menjadi satu dan kompak untuk melawan siiapa saja yang menindas rakyat kecil. Tidak ada persamarataan di Indonesia. Pemimpin yang menjanjikan akan membuka lowongan tenaga kerja, membagi sembako, memberantas kemiskinan, dan masih banyak lagi janji palsu yang mereka ucapkan, itu semua hanya janji yang tidak akan pernah menjadi nyata. Karena pemimpin hanya haus akan jabatan. Banyak penguasa yang jatuh di negeri ini oleh mahasiswa. Kita para mahasiswa harus menolak mentah-mentah penindasan para penguasa yang kini kian hari kian merajalela di negeri kita, Indonesia. Buku ini juga memberikan beberapa contoh kedzaliman-kedzaliman yang dilakukan para penguasa.

Buku ini juga menunjukan betapa buruknya sistem pendidikan di Indonesia, yang mana lembaga pendidikan hanya menjadi lahan untuk meraup uang sebanyak-banyaknya, Betapa banyak PTN di Indonesia yang memanfaatkan ketenaran nama kampusnya untuk kekayaan sang penguasa kampus, kemiskinan tak dapat dituntaskan jika hanya diam di dalam sebuah ruang ber-ac sambil mendengar ceramah dosen, perubahan terjadi jika ada gerakan karena mereka butuh solusi bukan teori, mereka butuh bantuan bukan hanya rasa belas kasihan.

Dekadensi moral serta disintegrasi nasional itu seperti halnya sampah di jalanan, kita dari sekolah dasar sering diberi nasihat agar membuang sampah pada tempatnya tapi ketika kita menemukan sampah di jalan kita seolah tidak peduli walau kita tau sampah mengakibatkan jutaan penyakit serta mengakibatkan banjir, begitu halnya dengan kemiskinan kita belajar agama seharian tentang menolong orang miskin bahkan kita tau hadistnya, tapi ketika kita menemukan orang miskin di jalan kita seolah tidak peduli dengan mereka kita hanya belajar teori tanpa gerakan sesungguhnya.

Di dalam kelas, kita hanya belajar teori dan teori, kita tak pernah tau keadaan sesungguhnya diluar sana kita hanya merasa iba jika orang orang miskin itu masuk televisi dan curhat tentang kemiskinannya tapi setelah acaranya selesai kita kembali ke aktivitas kita dan mereka tetap miskin.

Di catatan akhirnya, penulis kembali menjelaskan tentang pergerakan namun jika sebelumnya penulis menjelaskan kenapa harus bergerak di sini lebih kepada keberanian untuk melakukan pergerakan, keberanian seperti seorang Tan Malaka. Ia selalu bercermin dari fakta dan peristiwa. Tan Malaka tak mau berpaling dari kontradiksi. Tan malaka mengalami banyak pengalaman, seperti diburu, diasingkan dan akhirnya mati di tangan serdadu pribumi.

Komentar :

  1. Buku ini mengedepankan sikap untuk saling membantu sesama apalagi masyarakat golongan lemah. Di dalam buku ini menggunakan bahasa-bahasa yang mudah dipahami oleh para pembaca. Buku ini juga menggunakkan contoh-contoh yang nyata seperti yang terjadi di Indonesia. Dengan contoh yang sedetail itu dan senyata itu kita sangat mudah untuk memahami isi dari buku ini karena kita hanya perlu  menengok ke sekeliling kita untuk mencari bukti yang nyata tentang buku ini.
  2. Buku ini dapat dijadikan sebagai dorongan atas lahirnya gerakan mahasiswa untuk menolak segala penindasan yang terjadi akibat kebijakan pemerintah maupun birokrasi perguruan tinggi.
  3. Namun, buku ini hanya menonjolkan contoh-contoh dan aksi protes dari mahasiswa saja tidak disertai dengan jalan keluar yang pasti dan yang memecahkan masalah.

Tinggalkan Balasan

Close Menu