Sang Alkemis

Identitas Buku :
Judul : Sang Alkemis (terjemahan)
Penulis : Paulo Coelho
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2012
Tebal Halaman : 216 halaman

Ringkasan Isi Buku :

Novel ini bercerita tentang Santiago, bocah gembala Andalusia yang tidak bersekolah karena kedua orang tuanya hanya bekerja sebagai petani. Dan kedua orang tuanya menginginkan Santiago kelak besar nanti untuk menjadi seorang Pastor. Tetapi keinginan Santiago berlawanan dengan keinginan kedua orang tuanya, Santiago hanya berkeinginan untuk mengembara mencari harta duniawinya. Dari kampung halamannya di Spanyol, ia ke Tangier dan menyebrangi gurun Mesir.

Di hari ke tujuh perjalanannya, Sang Alkemis memuruskan membuat tenda lebih awal dari biasanya. Elangnya terbang mencari buruan, dan Alkemis menyodorkan tempat minumnya pada si bocah. ”Kau hampir tiba di perjalananmu,” kata sang alkemis. ”kuucapkan selamat padamu untuk pencarian Legenda Pribadimu.”

”Hanya ada satu cara untuk belajar,”jawab sang Alkemis. ”Melalui tindakan. Semua yang perlu kau ketahui telah kau pelajari melalui perjalananmu. Kamu hanya perlu mempelajari satu hal lagi.”ujar sang Alkemis itu.

Si bocah ingin mengetahui itu apa itu, tapi sang Alkemis memandang ke cakrawala, mencari elangnya. ”Mengapa kamu disebut sang Alkemis?” Tanya si bocah. ”karena memang itulah aku,” Ujar sang alkemis.

”Dan apa yang salah ketika Alkemis-alkemis lain mencoba membuat emas dan tak berhasil melakukannya?”

”Mereka hanya mencari emas,” jawab teman perjalananya. ”Mereka mencari harta dalam Legenda Pribadinya, tanpa benar-benar menginginkan menjalankan Legenda Pribadinya itu.”

”Apa yang masih perlu aku ketahui?” tanya si bocah.tetapi sang alkemis kembali menatap cakrawala.(hlm 145).

“Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita?” tanya si anak, ketika mereka mendirikan tenda pada hari itu.

“Karena, di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada.”(hlm 148).

***

Akhirnya si bocah tersebut menemukan letak di mana beradanya Legenda pribadinya itu. Tetapi setelah ia menggali di mana hartanya berada, si bocah mendengar suara kaki. Beberapa orang mendekatinya. Mereka menyuruh si bocah untuk terus menggali, tetapi tidak menemukan apa-apa. Ketika matahari terbit, orang-orang itu menghajar si bocah dan mengambil harta yang dimiliki si bocah dan akhirnya si bocah mengetahui di mana hartanya berada.

Si bocah akhirnya mengetahui di mana hatinya berada yaitu dengan kembali lagi ke gereja kecil dan terbengkalai dengan pohon Sikamor yang masih tegak di sakritis. Setelah pagi-pagi ia menggali di dasar pohon sikamor dan setelah setengah jam kemudian, sekopnya membentur sesuatu yang keras. Satu jam kemudian, di hadapannya tampak seperti coin emas Spanyol. Juga ada batu-batu berharga, topeng-topeng emas yang dihiasi bulu-bulu merah dan putih, dan patung-patung batu bertatahkan permata. Perjalanan itu pulalah yang membawanya menemukan cinta sejatinya: Fatima, gadis gurun yang setia menanti kepulangannya

Komentar :

  1. Hal yang paling saya suka dari novel ini adalah bahwasanya di setiap persinggahan, Santiago selalu mempelajari hal baru dan menemukan suatu keajaiban di sana. Keajaiban yang saya maksud bukan seperti keajaiban pada umumnya, namun lebih pada pembelajaran yang seketika membuat saya terdiam dan merenungi hidup saya sendiri. Bagaimanapun juga, kisah dan pelajaran yang ingin coba disuarakan oleh Paulo Coelho sangatlah relevan dengan diri saya, dan mungkin kebanyakan orang. Tentang dilemma kehidupan, upaya untung mengejar, pilihan hidup serta cinta.
  2. Selain itu, romansa yang dihadirkan dalam novel ini juga tidak terlampau mendominasi. Bahwasanya itu hanya satu dari aspek kehidupan yang harus manusia pikirkan setelah aspek-aspek lainnya, saya sangat suka. Karena memang, hidup ini tidak melulu tentang percintaan, meskipun setiap orang berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi setiap sisi kehidupannya dengan cinta.
  3. Gaya bercerita dari Sang Alkemis sangatlah menarik, dan mudah dipahami. Sehingga, mungkin beberapa ilustrasi di pertengahan halaman akan sangat membantu para pembaca di bawah usia. Mengingat konten dari buku ini sebenarnya akan sangat relevan pada remaja menuju dewasa, yang kini tengah menghadapi masalah dan dilemma antara mengikuti kata hati untuk meraih mimpi, atau menceburkan diri dalam rutinitas dan ritual kesibukan dunia yang membosankan.

Tinggalkan Balasan

Close Menu