AADWD : Ada Apa Dengan Window Dressing?

Nurul Khaeriah (Kema 2017)

Pada suatu hari masa-masa perkuliahan semester kelima, di kelas Teori Akuntansi Prof. Syarifuddin pernah membahas mengenai window dressing. Pembahasan hari itu menarik karena ini tiba-tiba muncul yang berkaitan dengan salah satu pertanyaan teman saya. Hari itu Prof Syarif mengatakan ada yang dikenal dengan istilah window dressing dimana ini merupakan suatu praktek dengan cara mempercantik tampilan laporan kuangan suatu perusahaan yang akan ditampilkan atau diperlihatkan kepada para klien atau investor agar mereka tertarik untuk berinvestasi dalam perusahaan tersebut. Nah ini menarik untuk dibahas dan Alhamdulillah Ikatan Mahasiswa Akuntansi Unhas memberikan wadah untuk menyalurkan opini saya mengenai window dressing ini yang juga termasuk ke dalam Creative Accounting yang menjadi tema Ima Write Competition seri 2.

Window dressing ini sangat umum ditemukan  dalam dunia pasar modal atau investasi reksa dana, window dressing biasanya dilakukan pada tiap akhir kuartal (per seperempat tahun atau per tiga bulan) yaitu ketika perusahaan merilis laporan keuangan kuartalan pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember inilah yang sering memunculkan fenomena santa claus rally atau january effect karena menguatnya harga saham akhir tahun sampai dengan bulan januari tahun berikutnya. Strategi yang dilakukan oleh pengelola reksa dana, yaitu ketika masuk pada akhir periode publikasi laporan keuangan, mereka dengan cepat menjual saham dalam portofolio mereka yang kinerjanya kurang baik. Adapun dana hasil penjualan tersebut akan segera dibelanjakan kembali untuk membeli saham yang berada dalam kisaran kinerja tinggi. Hanya saham-saham dengan kinerja yang tinggi itulah yang akan ditampilkan kepada investor melalui portofolio reksa dana. Nah dari sinilah biasanya para investor menilai bahwa portofolio saham dari pengelola reksa dana sangat baik dan menarik minat mereka untuk segera berinvestasi. 

Hal ini juga bisa kita lihat pada akhir tahun 2019 lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjelang penutupan perdagangan tiba-tiba meroket padahal sebelumnya fluktuatif. Ini dikarenakan penguatan saham-saham jumbo seperti seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Astra Internasional Tbk (ASII). Pergerakan yang meroket ini setelah sebelumnya bergerak di zona merah ini dinilai karena adanya window dressing. Namun ini juga memberikan dampak positif bagi IHSG. Effect window dressing, merupakan kekuatan yang membuat IHSG selalu naik selama 15 tahun berturut-turut di bulan Desember, bahkan dalam 20 tahun terakhir rata-rata kinerja IHSG di bulan Desember mencapai + 4.5 persen, yang notabene 4 kali lipat dibanding rata-rata kenaikan IHSG 11 bulan lainnya dalam 20 tahun terakhir.

Yang menjadi pembahasan berikutnya adalah apakah window dressing = manipulasi perusahaan ? window dressing dalam praktiknya berupaya untuk membuat laporan keuangan terlihat lebih baik daripada realitas atau kenyataan yang ada. Hal ini secara sederhana di ibaratkan seperti seorang wanita yang sedang mempercantik wajahnya dengan kosmetik, atau gadis kecil yang mempercantik rambutnya dengan pita atau seorang remaja laki-laki yang memperkeren rambutnya dengan pomade hehehe menarik bukan ?. Nah karena hal tersebut tadi window dressing ini acap kali dikonotasikan negatif karena adanya petensi untuk memanipulasi angka, data dan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut. 

Melalui proses manipulasi tersebut, perusahaan menampilkan hasil atau kinerja yang baik sehingga investor semakin yakin bahwa dengan berinvestasi dalam perusahaan tersebut, ia akan menuai keuntungan yang besar. Jika saja sang investor tidak cermat atau teliti maka telah dipastikan bahwa investor ini telah masuk ke dalam perangkap perusahaan. Oleh sebab itu, investor harus mempunyai ketajaman dan pengalaman dalam menganalisis laporan arus kas dan aset jangka panjang dari perusahaan suatu perusahaan.

Sebenarnya aktivitas window dressing ini bukanlah aktivitas yang dilarang selama tidak melanggar peraturan yang berlaku dan sesuai kinerja pasar/emiten dalam batas kewajaran. Fenomena window dressing ini bisa jadi pengetahuan bahwa setiap ada penurunan dalam investasi pasti selalu diikuti dengan kenaikan setelahnya (Market Reborn). Ketika ada aksi window dressing biasanya harga saham akan naik yang tentunya akan berpengaruh pada kenaikan reksadana saham juga, terutama yang memiliki portofolio saham-saham penggerak indeks (bluechips atau perusahaan berkapitalisasi besar dan tergabung dalam LQ-45). Namun, dari sudut pandang memaksimumkan imbal hasil, window dressing bisa kontra produktif karena mendorong fund manager menjalankan skenario buy high, sell low. Apalagi jika setelah periode tutup buku berlalu fund manager segera menjual saham-saham yang dipakai untuk bersolek. Tindakan window dressing sebenarnya tidak termasuk kategori investasi maupun spekulasi, karena tujuan utamanya adalah mendandani portofolio. 

Lantas Bagaimana cara kita jika seandainya kita adalah seorang investor untuk menghadapi atau menyikapi fenomena window dressing ini ? Jika kita menjadi seorang investor dengan maraknya window dressing di akhir tahun kita bisa mendapatkan keuntungan investasi jangka pendek. Dengan kata lain, jika kita berinvestasi pada akhir November dan menjualnya pada akhir Desember, besar kemungkinan investor akan memperoleh keuntungan. Meski begitu, ketika terjadi fenomena window dressing bukan berarti kita sebagai investor bisa membeli sembarang saham tanpa mempertimbangkan kondisi fundamental perusahaannya, karena itu dibutuhkan kecermatan dalam memilih saham. Karena pemilihan saham yang salah juga menimbulkan kerugian.

Garuda Indonesia juga pernah berada dalam kasus window dressing yaitu dengan cara menetapkan aktiva/pendapatan terlalu tinggi atau menetapkan kewajiban/beban terlalu rendah dalam laporan keuangan, sehingga perusahaan memperoleh laba yang lebih tinggi. Dalam konteks kasus Garuda, cukup jelas bahwa transaksi dari kontrak Mahata, signifikan menentukan tidaknya Garuda terhindar dari kerugian pada periode 2018. Garuda memperoleh pendapatan senilai US$239,94 juta dari Mahata pada 2018, dan menjadikan Garuda (grup) membukukan laba bersih sebesar US$5,02 juta. Jika tidak ada kontrak itu, maskapai tentu bisa mencatatkan rugi US$244 juta. Inilah yang menyebabkan dua komisaris garuda yaitu Chairal Tanjung dan Dony Oskaria menolak menandatangani laporan keuangan ketika Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Menurut Chairal, catatan transaksi kontrak Mahata dengan Garuda seharusnya tidak dapat diakui sebagai pendapatan dalam tahun buku 2018. Ini bertentangan bertentangan dengan Pedoman Standar Akuntansi Keuangan (PASK) No. 23 tentang Pendapatan, terutama paragraf 28 dan 29. Dalam PASK No. 23 dijelaskan pendapatan yang timbul dari penggunaan aktiva perusahaan oleh pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti dan dividen dapat diakui apabila besar kemungkinan pendapatan akan diperoleh perseroan. Selain itu, jumlah pendapatan juga dapat diukur dengan andal, dan royalti harus diakui atas dasar akrual sesuai dengan substansi perjanjian yang relevan. 

Banyak hal yang mendorong perusahaan melakukan window dressing, mulai dari mengejar target yang tinggi dari atasan, menghindari pajak, mengejar bonus atau penghargaan, menarik investor dan lain sebagainya. Selain kasus garuda di dalam negeri juga ada beberapa perusahaan besar lainnya seperti kasus Jiwasraya. Praktik window dressing ini juga terjadi di luar negeri seperti kasus Toshiba yang menggelembungkan labanya karena adanya dorongan krisis keuangan global 2008. 

Tinggalkan Balasan

Close Menu