Creative Accounting sebagai Strategi Elegan

Ade Ilham Ilahi (Kema 2017)

Ketika pengelolaan perusahaan masih menganut teori agensi maka praktik creative accounting akan terus berlanjut. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan kepentingan antara manajemen dengan pemilik perusahaan yang disatukan dengan kontrak atau perjanjian. Dimana manajemen menginginkan bonus dan pemilik perusahaan menginginkan tingkat pengembalian investasi yang tinggi. Jika pemilik menganggap manajemen belum memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh pemilik perusahaan maka bonus yang ditunggu tidak akan diberikan. Hal ini cenderung menjadi penyebab manajemen perusahaan mengatur sedemikian rupa agar kepentingan masing-masing pihak dapat terpenuhi, sehingga manajemen memperoleh bonus dan pemilik mendapat dividen yang memuaskan.

Keberhasilan manajemen dapat diukur dengan beberapa indikator, antara lain Return of investment (ROI). Akan menjadi kesulitan tersendiri bagi manajemen ketika kinerjanya diukur menggunakan ROI karena ROI dihitung berdasarkan persentase laba bersih terhadap modal yang diinvestasikan. Sehingga ketika nilai investasi meningkat maka laba bersih pun seharusnya meningkat, tetapi bisnis merupakan suatu yang memiliki ketidakpastian, karena sangat dipengaruhi oleh lingkungan baik internal maupun eksternal. Jadi tidak menutup kemungkinan ketika investasi meningkat malah ROI menurun, contoh nyata yang dapat kita lihat hari ini adalah banyaknya operasional perusahaan terganggu akibat virus covid 19. Meskipun demikian, ROI tetap menjadi tolak ukur bisnis yang paling tepat bagi pemilik perusahaan. Karena dengan mengetahui ROI sebuah perusahaan, maka kegiatan perusahaan akan dapat dievaluasi setiap saat.

Dengan menggunakan indikator ROI maka perusahaan juga mudah diperbandingkan dengan perusahaan lain maupun dengan rasio rata-rata industry sejenis. Sehingga dapat diketahui kekuatan dan kelemahan perusahaan dibanding perusahaan lain yang sejenis dalam sebuah industry. ROI juga dapat menjadi alat analisis dalam perencanaan dan pengambilan keputusan ekspansi sebuah perusahaan atau keputusan investasi pemilik modal. Melihat berbagai keunggulan yang dimiliki, ternyata ROI juga memiliki kelemahan yaitu sulit dibandingkan ketika praktik akuntasi yang digunakan oleh perusahaan berbeda-beda meskipun dengan menggunakan standar akuntansi yang sama. 

Dengan menggunakan standar akuntansi yang sama namun praktiknya berbeda maka muncullah istilah creative accounting. Segala jenis usaha dimana kemampuan dan pemahaman akuntansi yang digunakan oleh beberapa pihak untuk memanipulasi pelaporan keuangan merupakan creative accounting (Amat, Blake dan Dowd, 1999). Praktik ini sering meyebabkan asimetri informasi antara manajemen dan pemakai laporan keuangan. Pada dasarnya laporan keuangan haruslah menggambarkan bagaimana kegiatan operasional perusahaan dijalankan, dengan melakukan creative accounting besar kemungkinan laporan keuangan tidak menggambarkan secara jujur aktivitas perusahaan yang bernilai ekonomis (faithful representation of financial events).

Tujuan manajemen menggunakan pemahaman akuntansinya untuk memanipulasi laporan keuangan tidak hanya dipengaruhi oleh keinginan pemilik perusahaan untuk memperoleh tingkat pengembalian investasi yang tinggi tetapi juga karena ingin membayar pajak yang rendah, ingin memperoleh kredit dari bank, atau karena ingin melanjutkan kredit yang telah diberikan terlebih dahulu oleh bank atau yang lebih dikenal dengan istilah suplesi kredit. Adapun ketika perusahaan sudah terdaftar dan memperdagangkan sahamnya dibursa maka bisa jadi motivasinya agar perusahaan memenuhi kriteria tertentu sehingga saham perusahaan direspon positif oleh pasar dengan direkomendasikan oleh analis sekuritas yang menyebabkan harga saham perusahaan tersebut naik di bursa dan berdampak pada kinerja manajemen dan memperoleh kesan yang baik dilaporan tahunan dan RUPS perusahaan. 

Praktik ini juga bisa tumbuh dengan subur karena memang ada aturan yang memperbolehkan praktik tersebut atau justru tidak ada aturan yang melarang praktik tersebut dilakukan. Creative accounting yang dilakukan oleh internal perusahaan biasanya juga untuk menyelamatkan sebuah perusahaan dari beban yang tidak semestinya dibayar, seperti beban pajak yang terlalu tinggi dapat disiasati dengan melakukan manajemen pajak, sehingga diperoleh beban pajak yang lebih rendah dan tetap dibenarkan oleh pemerintah. 

Mungkin sebagian besar tidak menyadari bahwa dikampus atau perkuliahan sendiri diajarkan kepada mahasiswa untuk melakukan creative accounting yaitu manajemen pajak sehingga perusahaan dapat melakukan penghindaran pajak agar pajak yang dibayarkan perusahaan tidak terlalu tinggi. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa praktik creative accounting ada yang legal dan illegal. Ketika praktik tersebut dilakukan dengan tidak mengurangi kandungan informasi untuk pihak yang berkepentingan maka dapat digolongkan praktik yang legal, sedangkan jika pencatatan akuntansi dilakukan dengan sengaja mengurangi kandungan informasi atau menyebabkan asimetri informasi bagi pemakai laporan keuangan maka dapat kategorikan praktik yang illegal. Pemakai laporan keuangan ada dua yaitu pihak internal dan eksternal perusahaan, tetapi laporan keuangan yang paling sering dilakukan modifikasi adalah laporan keuangan yang ditujukan kepada pihak eksternal.

Adapun kondisi ideal ketika perusahaan ingin menerapkan creative accounting adalah tidak hanya mengubah angka atau pengakuan pada laporan keuangan, akan tetapi secara nyata merumuskan strategi agar praktik yang ada sesuai dengan yang telah dicatat pada laporan keuangan. Sebagai contoh ketika perusahaan ingin membangun atau melakukan sebuah aktivitas bisnis yang memiliki potensi risiko besar maka alangkah baiknya perusahaan mengatur sedemikian rupa agar risiko tersebut dapat diminimalisir, baik dengan melibatkan perusahaan asuransi maupun dengan melakukan strategi rekayasa yang dibenarkan menurut hukum yang berlaku dengan mendirikan anak usaha atau perseroan terbatas baru yang dikuasai sebagai entitas tersendiri sehingga kerugian yang disebabkan oleh kegagalan bisnis hanya ditanggung sebesar modal yang diinvestasikan kepada anak usaha tersebut. 

Ketika perseroan baru tersebut mengalami masalah maka tidak akan mengganggu kesehatan keuangan induknya secara signifikan akan tetapi ketika anak usaha tersebut mengalami keberhasilan maka akan muncul beberapa opsi yaitu mengambil alih produk atau bisnis yang dikembangkan oleh perseroan baru tersebut dengan harga yang relatif murah karena masih memiliki hubungan konsolidasi atau tetap mempertahankan anak perusahaan atau perseroan baru tersebut untuk selanjutnya digunakan dalam bisnis berisiko tinggi yang mungkin akan dikerjakan dimasa yang akan datang. 

Praktik creative accounting seyogyanya tetap mempertimbangkan etika dan mempertahankan kejujuran dalam penerbitan laporan keuangan. Jangan sampai faktor keterpaksaan selalu menjadi alasan membenarkan praktik creative accounting yang tidak sesuai dengan etika tetap dipertahankan. Ketika melakukan creative accounting maka creative tersebut haruslah menjadi sebuah strategi yang dilaksanakan dalam operasional perusahaan, bukan hanya mengubah angka-angka diatas kertas semata dengan memanfaatkan celah hukum dan standar yang ada. Sudah banyak kejadian yang seharusnya menjadi bahan intropeksi bahwa ketika melakukan praktik creative accounting yang tidak sesuai dengan keadaan (illegal) maka akan berakhir dengan kegagalan, baik itu ditemukan oleh auditor yang memeriksa maupun dengan berjalannya waktu maka kesalahan atau manipulasi tersebut akan terungkap dengan sendirinya.

Di dunia internasional sempat heboh kasus enron yang bangkrut pada tahun 2002 akibat rekayasa laporan keuangan. Di Indonesia sendiri sudah banyak kasus perusahaan yang gagal dalam menutupi creative accounting yang dilakukannya seperti perusahaan penerbangan milik pemerintah yang mengakui piutang jangka panjangnya sekaligus dalam satu periode pelaporan keuangan dan penimpangan ini diungkap oleh salah seorang komisaris yang telah menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya dengan menelaah laporan keuangan secara memadai, ada juga kasus asuransi pelat merah yang diduga telah melakukan rekayasa laporan keuangan selama beberapa waktu dan diketahui setelah mengalami gagal bayar premi asuransinya. Sebagai penerima amanah hendaknya para pengelola selalu mempertahankan sifat kejujuran kepada pemberi amanah karena ada saatnya kebohongan yang dilakukan akan muncul kepermukaan. Sebagaimana peribahasa “sepandai-pandai tupai melompat pasti akan terjatuh juga”.

Tinggalkan Balasan

Close Menu