VAKSIN is Solution for CORONA (Creative accOunting viRus in OrgaNizAtion)

Auliya Febriani (Kema 2017)

Accounting is the art of recording, classifying, and summarizing in a significant manner and in terms of ., transactions and events which are, in part at least, of financial character, and interpreting the results thereof. ~American Institute of Certified Public Accountant (AICPA)

Masalah Praktik Creative Accounting di Indonesia : 

Praktik Creative Accounting di Indonesia adalah fenomena yang sering terjadi diberbagai Entitas. ‘creative accounting’ terdiri dari 2 kata yaitu ‘creative’ yang artinya kebolehan seseorang menciptakan ide baru yang efektif, dan kata ‘Accounting’ yang artinya pembukuan tentang  financial events yang senantiasa berusaha untuk melaporkan kondisi keuangan yang sebenarnya (faithful representation of financial events). 

Tujuan seseorang melakukan creative accounting bermacam-macam, di antaranya adalah untuk pelarian pajak, menipu bank demi mendapatkan pinjaman baru, atau mempertahankan pinjaman yang sudah diberikan oleh bank dengan syarat-syarat tertentu, untuk mencapai target yang ditentukan oleh analisis pasar, atau menipu pemegang saham untuk menciptakan kesan bahwa manajemen berhasil mencapai hasil yang cemerlang. Selain itu, Motivasi materialisme merupakan suatu dorongan besar manajemen dan akuntan melakukan creative accounting. Banyak perusahaan yang terjebak masalah creative accounting yang mempunyai sistem ‘executive stock option plan’ bagi eksekutif-eksekutif yang mencapai target yang ditetapkan. Secara umum, para eksekutif biasanya lebih mengenal perusahaan tempat mereka bekerja dibandingkan karyawan. Sehingga para eksekutif ini dapat dengan mudah memanipulasi data-data dalam laporan keuangan (financial statement) dengan motivasi memperkaya diri mereka sendiri.

Berbagai macam pola yang dilakukan dalam rangka ‘creative accounting’ menurut Scott [1997] sebagai berikut:

  • Taking Bath, atau disebut juga ‘big bath’. Pola ini dapat terjadi selama ada tekanan organisasional pada saat pergantian manajemen baru yaitu dengan mengakui adanya kegagalan atau defisit dikarenakan manajemen lama dan manajemen baru ingin menghindari kegagalan tersebut. Teknik ini juga dapat mengakui adanya biaya-biaya pada periode mendatang dan kerugian periode berjalan ketika keadaan buruk yang tidak menguntungkan pada periode berjalan. Konsekuensinya, manajemen melakukan ‘clear the decks’ untuk membuat laba periode berikutnya lebih tinggi dari seharusnya.
  • Income minimization. Cara ini mirip dengan ‘taking bath’ tetapi kurang ekstrem. Pola ini dilakukan pada saat profitabilitas perusahaan sangat tinggi dengan maksud agar tidak mendapatkan perhatian oleh pihak-pihak yang berkepentingan (aspek political-cost). Kebijakan yang diambil dapat berupa write-off atas  modal dan aktiva tak berwujud, pembebanan biaya iklan, biaya riset dan pengembangan, metode successfull-efforts untuk perusahaan minyak bumi dan sebagainya. Penghapusan tersebut dilakukan bila dengan teknik yang lain masih menunjukkan hasil operasi yang kelihatan masih menarik minat pihak-pihak yang berkepentingan. Tujuan dari penghapusan ini adalah untuk mencapai suatu tingkat return on assets yang dikehendaki.
  • Income maximization. Maksimalisasi laba dimaksudkan untuk memperoleh bonus yang lebih besar dimana laba yang dilaporkan tetap dibawah batas atas yang ditetapkan.
  • Income smoothing. Perataan laba merupakan cara yang paling populer dan sering dilakukan. Perusahaan melakukannya untuk mengurangi volatilitas laba bersih. Perusahaan mungkin juga meratakan laba bersihnya untuk pelaporan eksternal dengan maksud sebagai penyampaian informasi internal perusahaan kepada pasar dalam meramalkan pertumbuhan laba jangka panjang perusahaan.
  • Timing revenue and expense recognition. Teknik ini dapat dilakukan dengan membuat kebijakan tertentu berkenaan dengan saat atau timing suatu transaksi seperti adanya pengakuan yang prematus atas penjualan.

Contoh Kasus di Indonesia : PT Pasher Carding

Perusahaan Kosmetik PT. PASHER CARDING memiliki produk kosmetik yang belum selesai penelitiannya. Tetapi permintaan akan produk kosmetik tersebut memiliki banyak permintaan dipasar. Karena banyaknya permintaan, Bapak AFTON selaku marketing manager mengatakan kepada Presiden direktur Bapak Daeng Marowa untuk segera melakukan penjualan dipasar karena tidak ingin melepaskan momen permintaan yang banyak. Padahal penelitian atas produk tersebut yang dilakukan oleh departemen R & D belum selesai. Departemen R & D Pun belum bisa menjawab apakah akan ada efek samping apabila menggunakan produk kosmetik tersebut. Tetapi marketing manager tetap memprovokasi Bapak Presiden Direktur untuk melakukan peluncuran produk tanpa mempedulikan hasil Riset. Bapak Daeng Marowa selaku presiden direktur meminta nasihat kepada Departemen GA mengenai Proses hukumnya. Ternyata bapak Handi Priono selaku Manager GA menganjurkan untuk membuat PT. baru, dan mengatas namakan produk tersebut adalah buatan PT. Baru. Dan jika nanti ternyata memang ada pengaduan mengenai efek samping dan konsumen merasa dirugikan maka, PT. Baru tersebut yang akan disalahkan, jika terjadi sengketa dan tidak bisa mengganti rugi, maka akan dikatakan pailit, jadi resikonya kecil dan tidak akan memakan ganti rugi yang besar. sebaliknya jika ternyata tidak terjadi efek samping ataupun tidak terjadi permasalah malahan berhasil, maka kita akan membeli merek produk tersebut dengan harga sangat murah dan meneruskan penjualan.

Creative accounting pada kasus ini terjadi  ketika perusahaan memanfaatkan kemampuan akuntannya dalam melakukan berbagai metode yang sebenarnya diperbolehkan juga didalam peraturan demi melindungi kepentingan para stakeholders

Solution for CORONA (Creative accOunting viRus in OrgaNizAtion) adalah melakukan sebuah VAKSIN dengan menaati Etika Profesi Akuntansi. 

VAKSIN (objektiVitas, ProfesionAl, Kompetensi, KerahaSiaan, Integritas dan kehati-hatiaN)

Seorang akuntan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya haruslah berpegang teguh dengan nilai etika yang dimiliki. Sehingga, Solusi terbaik yang dapat dilakukan adalah Menaati dan Melaksanakan Etika Profesi Akuntan yaitu : 

  • ObjektiVitas 

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indoneisa (KBBI), objektivitas dapat diartikan sebagai pengambilan keputusan atau tindakan yang tidak dipengaruhi pendapat dan pertimbangan pribadi atau golongan. Prinsip objektivitas ini akan mewajibkan akuntan untuk bersikap adil, jujur secara intelektual, tidak memihak, tidak berprasangka atau biassertabebas dari benturan kepentingan atau pengaruh yang tidak sepantasnya dari pihak lainnya

  • ProfesionA

Seorang akuntan haruslah menanamkan dalam dirinya sikap profesional dalam melaksanakan tugasnya dengan baik  tanpa melakukan sikap melanggar etika. 

  • Kompetensi 

Kompetensi adalah tolak ukur bagi seorang akuntan untuk senantiasa memelihara keahlian dan pengetahuan yang semestinya sesuai hukum, peraturan dan standar teknis, serta membuat laporan yang jelas dan lengkap berdasarkan informasi yang dipercaya dan relevan

  • KerahaSiaan 

Mengingat akuntan adalah profesi yang berhubungan langsung dengan data keuangan, maka sudah sepatutnya harus mampu memegang prinsip kerahasiaan. Prinsip kerahasiaan  mengharuskan setiap akuntan untuk tidak melakukan : 

  1. Mengungkapkan informasi rahasia yang diperolehnya dari hubungan profesional dan hubungan bisnis pada pihak di luar kantor akuntan atau organisasi tempat akuntan bekerja tanpa diberikan kewenangan yang memadai dan spesifik, terkecuali jika mempunyai hak dan kewajiban secara hukum atau profesional untuk mengungkapkan kerahasiaan tersebut.
  2. Menggunakan informasi rahasia untuk keuntungan pribadi atau pihak ketiga. Informasi yang diperoleh baik melalui hubungan profesional maupun hubungan bisnis.
  • Integritas 

Merupakan kualitas yang mendasari kepercayaan publik dan merupakan patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji semua keputusan yang diambilnya. Integritas mengharuskan seorang anggota untuk bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa, pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi dapat menerima kecurangan atau peniadaan  prinsip (Mulyadi, 2002)

  • Kehati-hatiaN

Bahwa seorang akuntan harus teliti dan cermat dalam melaksanakan tugasnya. Tidak asal dalam mengambil sebuah keputusan dan melaksanakn pelaporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. 

Berdasarkan  Solusi yang penulis tawarkan dengan menerapkan dan melakukan VAKSIN dengan mematuhi Etika Profesi Akuntansi dengan baik, diharapkan mampu meminimalisir praktik Creative Accounting atau bahkan tidak terjadi lagi. Faktor utama meruaknya Creative Accounting di Indonesia adalah dari individu masing-masing. Keserakahan dan sifat kapitalisme yang ada dalam diri individu membuat Creative Accounting disalahgunakan dan hanya menguntungkan pihak tertentu saja. Dengan menerapkan VAKSIN yaitu mematuhi Etika Profesi Akuntansi dengan baik dan melakukan pemahaman dalam diri sendiri diharapkan seorang akuntan mampu menjadi akuntan yang Profesional dalam berbagai peristiwa atau kejadiaan. Selain itu, Seorang akuntan harus meningkatkan IMAN, ILMU dan AMAL dalam melaksanakan tugasnya. Dengan cara ini, akuntan akan senantiasa berhati-hati dan menunjang Pelaksanaan penggunaan VAKSIN seperti yang penulis tawarkan. Selain itu, diharapkan seorang akuntan bukan  hanya berfokus dalam satu cabang ilmu saja. Namun, diharapkan seorang akuntan mampu mengetahui disiplin ilmu yang lain untuk mengkolaborasikan ilmu akuntansi dengan ilmu lain sehingga menjadi solusi dari permasalahan-permasalahan yang terjadi dan bukan justru menciptakan masalah. Penulis berpesan terkhusus untuk penulis sendiri agar lebih bijak lagi menggunakan ilmu akuntansi yang dimiliki. Akuntansi adalah seni yang mampu menjadi solusi disertai dengan Iman atas apa yang dikerjakan. Jadikan seni sebagai solusi, bukan sebagai masalah

Tinggalkan Balasan

Close Menu